Oleh Iko Pramudiono
World Wide Web yang juga lebih dikenal sebagai WWW atau Web saat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sebagian orang. Tetapi berapa banyak dari kita yang menyadari bahwa sebenarnya usia teknologi ini masih sangat muda, tidak lebih dari 20 tahun.
WWW lahir di tahun 1989 ketika seorang peneliti CERN (pusat penelitian nuklir Eropa) bernama Tim Berners-Lee membuat sebuah browser berbasis hyperlink untuk sistem pengakses tulisan ilmiah di lembaga tersebut. Browser sangat sederhana itu pertama diberi nama WorldWideWeb, tanpa spasi, lalu kemudian berganti menjadi Nexus untuk menghindari kerancuan dengan istilah WWW.
Walaupun sekarang WWW sudah meraih sukses besar melebihi perkiraan pembuatnya di awal pembuatannya, Tim Berners-Lee masih belum puas dengan teknologi WWW saat ini. Sebagai direktur World Wide Web Consortium (W3C) yang menetapkan standardisasi WWW, Tim sedang mempersiapkan konsep generasi berikut dari WWW. Konsep yang diberi nama Semantic Web itu dicetuskan pada tahun 2002.
Makna harfiah dari Semantic adalah arti. Semantic Web didefinisikan sebagai sebuah kumpulan teknologi yang memungkinkan komputer memahami arti dari sebuah informasi berdasar pada metadata yaitu informasi mengenai isi informasi. Dengan adanya metadata, komputer diharapkan mampu secara otomatis membantu manusia mengartikan hasil proses informasi sehingga hasil pencarian informasi dapat menjadi lebih akurat.
Sebagai contoh dari metadata, bila ada sebuah tulisan “guru Bagus”, manusia bisa memahami tulisan di depan atau di belakangnya apakah tulisan ini mengenai seorang guru bernama Bagus, guru yang bagus, guru dari murid bernama Bagus atau guru sekolah bernama Bagus. Tetapi komputer saat ini tidak bisa memahaminya dengan baik. Karenanya dengan adanya metadata memungkinkan komputer memahami maknanya, misalnya dengan menambahkan data jenis pekerjaan “guru”. Demikian pula untuk kata “dokter Sehat” dapat ditambahkan data jenis pekerjaan “dokter”, alamatnya di “jalan Sehat”, buka praktek “Senin, Rabu”, dan sebagainya.
Hyperlink yang sekarang dipakai di WWW juga mempunyai fasilitas anchor text, yang memberikan keterangan tentang isi bagian atau website yang ditunjuk oleh suatu hyperlink. Metadata dalam Semantic Web bisa dianggap sebagai pengembangan dari anchor text yang lebih lengkap dan terstruktur. W3C telah pula mendefinisikan format data untuk metadata yang disebut sebagai Resource Description Format (RDF).
Tiap unit informasi dalam RDF dapat dinyatakan sebagai sebuah kombinasi dari tiga komponen yang disebut subject, predicate, dan object. Karenanya unit informasi tersebut sering juga disebut RDF triple. Subject dan object merupakan entitas yang ditunjukkan oleh sebuah URI atau teks. Predicate atau property menerangkan bagian atau sudut pandang dari subject yang dijelaskan oleh object. RDF dapat juga dinyatakan dalam bentuk graf dengan dua node subject dan object dihubungkan oleh sebuah tanda panah sebagai predicate-nya.
Hal yang menarik dari RDF adalah object sendiri dapat menjadi subject yang nantinya akan dijelaskan oleh object lainnya. Untuk itu pemberian nama untuk tiap entitas dan predicate harus diatur dengan sebuah definisi yang disebut ontology. Dengan cara ini beberapa entitas dapat saling berhubungan dengan hubungan yang terdefinisi jelas.
Sebagai contoh, di sebelah kiri Gambar 2 ada dua RDF triple. Yang pertama mengenai seorang guru bernama Firman, subject-nya adalah sebuah URI, predicate-nya adalah mengenai nama, sedangkan object-nya adalah teks “Firman”. RDF triple ini dapat digabungkan dengan RDF triple kedua mengenai hubungan guru dan murid dan juga beberapa RDF triple lainnya sehingga membentuk sebuah graf seperti di sebelah kanan dari Gambar 1.

Gambar 1. Contoh metadata dalam format RDF
menambahkan metadata yang dapat diartikan oleh komputer pada informasi di WWW, pencarian data dapat menjadi lebih efisien. Dengan kata lain, Semantic Web bertujuan agar informasi di WWW dapat digunakan sebagaimana sebuah database berskala global.
Tetapi untuk mewujudkan Semantic Web, ada beberapa kendala yang harus diatasi. Kendala terbesar adalah bagaimana memberikan metadata sesuai standar pada berbagai jenis data yang sudah terbentuk dengan format berbeda yang ada pada berbagai komunitas. Saat ini metadata yang mengikuti standar seperti yang ditetapkan W3C itu masih sedikit jumlahnya. Tetapi Tim Berners-Lee tetap optimis, “Ketika HTML mulai mendapat perhatian, banyak orang juga berkata bahasa yang buruk, atau mengapa harus memakai barang seperti ini?” ujarnya.
Pada kenyataannya, banyak perusahaan yang harus mengeluarkan banyak biaya dan upaya untuk mengintegrasikan data dari berbagai aplikasi sudah mulai menaruh perhatian pada teknologi Semantic Web. Selain itu, satu bentuk metadata bernama RSS juga mulai umum digunakan seiring dengan meluasnya pemakaian blog.
Di lain pihak, ada juga usaha lain untuk mewujudkan generasi berikut dari WWW yang dipelopori oleh perusahaan-perusahaan venture seperti Flickr atau del.icio.us yang diistilahkan sebagai perusahaan Web2.0. Mereka mengajukan metadata yang lebih fleksibel dalam bentuk tag yang diberikan secara bebas pada foto-foto maupun kategori di bookmark oleh pemiliknya. Pemakaian tag-tag tersebut sering disebut juga sebagai folksonomy, saat ini juga berkembang pesat. Mungkin kita tidak harus menanti 20 tahun untuk mengetahui apakah bentuk generasi berikut dari WWW.
Sumber : http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2006-05-15-Semantic-Web:-Generasi-Baru-WWW.shtml
Iko Pramudiono, Doktor dari The University of Tokyo di bidang Electro Communications Engineering. Saat ini adalah peneliti pada NTT Information Sharing Platform Laboratories. Email: iko.pramudiono@gmail.com
Powered by Qumana










No user commented in " Semantic Web "
Follow-up comment rss or Leave a TrackbackLeave A Reply